Ilustrasi puisi (pixabay)
Ilustrasi puisi (pixabay)

Adakah yang Lebih Cantik Dari Api yang Bekerja
*dd nana

-Ambillah sezarrah saja api itu-

29-

Lelaki itu terkesiap. Tanpa peta dan arah yang didekap gelap paling malam.

Maka, menengadahlah lelaki itu

ke rumah awalnya yang penuh aroma dan cahaya. Taman yang ditinggalkan.

"Beri aku api sebagai penerang jalan rindu. Penguat tulang punggung untuk selesaikan kisah," bisiknya dengan air mata yang melewati ke dua pipinya.

Para kekasih bersayap resah, walau sempat meradang pada lelaki yang dikisahkan menjadi pembangkang, sebelum sabda di bahasakan.

"Ambillah api dan turunkan. Mintalah ke Malik," sabda-Nya.

Makhluk bersayap paling terang pun terbang. Membawa sezarrah api yang dicelupkan pada tujuh puluh sungai untuk meredam nyalangnya.

Melunakkan jalangnya yang melelehkan setiap benda dan nama-nama didekatnya.

Api sezarrah yang bekerja terlalu riang, terlalu murni yang diciptakan pemilik Sabda. 

Maka, ditentengnya pulang menuju muasal. Tuhan telah mencipta pena untuk menuliskan segala muasal hingga muasal.

Kilaumu terlalu benderang dan menyurutkan, menyusutkan segala. Maka aku kembalikan ke awal dan tujuanmu dilahirkan.

Matamu terpesona dengan riap warna api di dalamnya. Memesona terlalu segala sisa yang ditinggalkan sezarrah api. Yang menghuni setiap dada keturunan lelaki yang meminta api pada Tuhannya.

"Kita perlu merayakan api, bukan begitu, sayang?" 

dengannya siapapun lelaki dalam ceritamu menemukan jalan persuaan. Hingga bisa melingkarkan tangan di tubuh yang lekat dikisahkan sebagai penggoda. Hingga bisa saling menukar sisa zarrah api yang dikembalikan ke muasal awalnya itu.

"Seperti kita saat ini, bukan begitu, sayang?."

Api di dadaku mulai bekerja, memanaskan kamar yang sengaja kita matikan segala yang memancarkan cahaya.

Menyusutkan ragu dan takut atas segala larangan.

Api mulai bekerja dengan caranya yang gemulai

Melucuti segala tempelan di raga kita, dan mengembalikannya pada muasal cerita.

Adakah yang lebih cantik dari api yang sedang bekerja ini, sayang?

Sungguh, aku tak ingin mengenang kisah lelaki yang terbuang dari taman itu. Dan meminta api pada Tuhannya. Saat mataku menatap api yang bekerja di tubuh pualammu. Dan di tubuhku yang lama dihuni rasa sepi tanpa apimu.

"Ambillah sezarrah saja api itu. Rindu pun akan membakar kisah para pecinta sepanjang nafas."
 

-30

Kau usapkan uap api

di wajahmu yang dicumbui udara basah 

pegunungan yang kau taklukkan.

Wajahmu sedikit menghangat

sebelum air mata merebutnya lagi.

Diketinggian itu, isakmu pecah
membuat api tertegun dan akhinya memudarkan cahaya dan panasnya.

Tak ada sepasang tangan yang melingkar

meredakan getar dari isak yang pecah dan 

kisah-kisah masa depan yang membuat

mata terjaga dan siap melawan cuaca.

Api bergetar di telapak tangan dan meminta pulang.

Karena, kisah-kisah tangisan kerap membuatnya lumpuh dan tak lagi bisa bekerja.

"Tapi, kecantikan akan pudar tanpa kau bekerja," ucap makhluk bersayap yang bertugas menyatukan segala yang terserpih pecah.

"Percayalah aku terlalu lelah," ujar api yang meredupkan hidupnya sendiri.

Diketinggian kau masih terisak

dan udara basah mencuri air matamu begitu rakus.
 

* hanya penikmat kopi lokal