Bapak dan anak saat diamankan petugas karena kasus pengeroyokan dan penganiayaan (Foto : Polsek Dampit for MalangTIMES)
Bapak dan anak saat diamankan petugas karena kasus pengeroyokan dan penganiayaan (Foto : Polsek Dampit for MalangTIMES)

Kejadian nahas dialami Rusbi warga Kelurahan/Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Selasa (12/11/2019) dini hari. Pria yang kesehariannya bekerja sebagai petugas keamanan di Pasar Dampit ini, dijadikan samsak hidup lantaran dikeroyok dan dianiaya oleh kedua pelaku yang diketahui berstatus sebagai bapak dan anak.

Berdasarkan laporan kepolisian, kedua pelaku bernama Sutarmin Priyanto (54), dan anaknya bernama Ekta Agus Devia (23). Kedua tersangka merupakan warga Dusun Argosuko, Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.

”Kedua tersangka kasus penganiayaan dan pengeroyokan ini sudah kami amankan, kasusnya masih dalam tahap penyidikan,” kata Kanit Reskrim Polsek Dampit, Ipda Imam Arifin, Selasa (12/11/2019).

Berdasarkan laporan kepolisian, aksi pengeroyokan yang dilakukan bapak-anak ini terjadi di kawasan Pasar Dampit. Sesaat sebelum kejadian berlangsung, korban diketahui sedang menjalankan pekerjaannya untuk menjaga keamanan lingkungan di Pasar Dampit.

Saat itu Rusbi sedang bekerja sendirian. Setelah berpatroli mengelilingi pasar, korban sempat melepas lelah dengan duduk santai di sekitar lokasi kejadian. Tidak berselang lama kemudian, datanglah kedua orang pelaku.

Di hadapan korban, kedua tersangka sempat menuduh jika Rusbi membawa kabur istri tersangka Sutarmin. Mendapat tuduhan tersebut, korban sempat mengelak dan tidak mengakui apa yang dituduhkan tersangka terhadapnya.

Ketiganya akhirnya terlibat perdebatan panjang. Di sela cek-cok, tersangka Sutarmin sempat melayangkan pukulan yang membuat korban jatuh tersungkur. Di saat bersamaan, anaknya yang bernama Ekta juga melayangkan pukulan dan tendangan ke arah korban.

Tak kuasa menahan rasa sakit akibat dikeroyok kedua pelaku, Rusbi akhirnya berteriak minta tolong. Mungkin khawatir jika ada warga yang mendengarnya, kedua pelaku akhirnya menghentikan aksi penganiayaan tersebut.

Sebelum pergi meninggalkan lokasi kejadian, kedua tersangka sempat mengancam akan membunuh korban dengan menggunakan sebilah pisau belati yang mereka bawa saat menganiaya korban. ”Motif pengeroyokan dan penganiayaan ini diduga karena kesalah pahaman, kedua tersangka mengira jika korban membawa kabur istri tersangka Sutarmin. Padahal hubungan antara korban dan istri pelaku adalah saudara kandung,” terang Imam.

Merasa tidak terima, Rusbi memilih melaporkan kejadian yang dialaminya ke Mapolsek Dampit. Di hadapan petugas, pria 50 tahun itu mengaku jika baru saja dianiaya kedua pelaku lantaran kesalah pahaman.

”Korban tidak membawa kabur istri tersangka Sutarmin, namun hanya mengantarnya ke kantor desa. Tujuannya adalah untuk mengurus surat kehilangan buku nikah,” ungkap Imam kepada MalangTIMES.com.

Setelah urusan di kantor desa dirasa cukup, lanjut Imam, korban memang tidak mampir ke rumah saudara kandungnya tersebut. Bahkan sang istri pulang ke rumah sendirian. Ketika ditanya keluarganya, istri tersangka Sutarmin mengaku jika baru saja keluar dengan korban.

Dikarenakan kesalah pahaman inilah, kedua pelaku yakni suami dan anaknya mengira jika Rusbi telah membawa kabur istri dari tersangka Sutarmin tersebut. Merasa tidak terima kedua pelaku akhirnya melabrak Rusbi dan langsung menganiayanya dengan menggunakan tangan kosong.

”Sesaat setelah mendapat laporan, kedua tersangka kami amankan saat yang bersangkuan berada di kediamannya. Ketika diringkus petugas, keduanya tidak melakukan perlawanan dan mengakui semua perbuatan penganiayaan yang mereka perbuat,” jelas Imam.

Pihaknya menambahkan, selain mengamankan kedua tersangka. Petugas juga menyita beberapa barang bukti dari rumah pelaku. Yakni sebilah senjata tajam (sajam) jenis pisau belati, yang digunakan tersangka untuk mengancam akan membunuh korban.

”Terhadap kedua tersangka kami jerat dengan pasal 170 serta pasal 351 dan 335 KUHP, tentang tindak pidana pengeroyokan dan penganiayaan yang disertai dengan pengancaman,” tutup Imam.