Tampilan utama aplikasi MalangKAB Tanggap (Foto : Screenshot Handphone)

Tampilan utama aplikasi MalangKAB Tanggap (Foto : Screenshot Handphone)


Editor

A Yahya


Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) Kabupaten Malang, memberikan fasilitas “ghibah” bagi para warganet. Jika selama ini para penikmat dunia maya hanya gemar “berselancar” di media sosial (medsos), kini melalui aplikasi MalangKab Tanggap, masyarakat di Kabupaten Malang dapat menyampaikan aspirasinya, maupun memberikan informasi bencana melalui aplikasi tersebut.

”Aplikasi MalangKab Tanggap ini bisa diinstal melalui layanan play store yang ada smart phone. Rencananya akan segera kami launching pada bulan November mendatang,” kata Plt Kepala Diskominfo Kabupaten Malang, Ferry Hari Agung, Rabu (9/10/2019).

Pada aplikasi yang dapat diinstal melalui handphone android ini, masyarakat di Kabupaten Malang bisa menyampaikan segala aspirasinya. Mulai dari memberi masukan, saran, hingga kendala yang dialami para warga terkait pelayanan pemerintah Kabupaten Malang. Semuanya akan difasilitasi melalui aplikasi MalangKab Tanggap.

”Seluruh keluhan masyarakat yang disampaikan melalui aplikasi ini, akan segera ditindak lanjuti. Kami akan menyampaikan dan menghubungkannya langsung kepada dinas yang bersangkutan. Misalnya ada keluhan terkait kepengurusan data kependudukan, maka akan kami sampaikan ke Dispendukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil) agar segera disikapi. Kemudian terkait aspal rusak, akan kami sampaikan ke Dinas PU Bina Marga dan seterusnya,” terang Ferry.

Selain bisa ghibah terkait penyampaian keluhan dan masukan akan kinerja pemerintahan. Para warga Kabupaten Malang juga dapat memberikan informasi akan kejadian maupun bencana, melalui aplikasi MalangKab Tanggap.

”Jika ada kemacetan, kecelakaan, musibah kebakaran, hingga bencana banjir, longsor, pohon tumbang dan sebagainya, sampaikan saja informasinya melalui aplikasi ini (MalangKab Tanggap). Nantinya semua informasi kejadian dan bencana akan segera terhubung ke instansi terkait, agar segera ditanggulangi,” ungkap Ferry.

”Misal kalau kemacetan dan kecelakaan, akan dihubungkan ke pihak kepolisian. Kemudian info terkait musibah dan bencana akan disampaikan ke BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Malang. Dengan demikian segala informasi yang masuk melalui aplikasi, akan segera bisa teratasi,” sambung Ferry.

Cara menginstal aplikasi MalangKab Tanggap, lanjut Ferry, tidak jauh berbeda dengan kebanyakan aplikasi yang ada di Play Store. Langkah pertama yakni menuliskan key word nama aplikasi (MalangKab Tanggap) ke kolom pencarian di play store.

Maka, secara otomatis akan muncul aplikasi tersebut di baris pencarian. Tinggal pilih MalangKab Tanggap kemudian instal, maka aplikasi tersebut secara otomatis akan terinstal di handphone kita masing-masing.

”Aplikasi ini gratis, jadi siapa saja bisa menginstalnya. Tinggal registrasi dengan cara memasukkan nomor KTP hingga verifikasi melalui email saja,” terang Ferry saat dikonfirmasi MalangTIMES.com.

Guna menunjang aplikasi tersebut, Diskominfo juga menyematkan berbagai fiture tambahan. Di antaranya dapat mengakses data yang ada di memori handphone user, hingga akses kamera. Sehingga bagi user yang ingin memasukkan data, foto, maupun video dapat dilampirkan melalui aplikasi MalangKab Tanggap. ”Sementara, aplikasi ini hanya bisa diakses melalui android, ke depan akan kami kembangkan agar bisa diakses melalui ios,” sambung Ferry.

Dalam kurun waktu sekitar satu bulan menjelang launching, Ferry mengaku masih berkoordinasi dengan seluruh OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang ada di Kabupaten Malang. Dengan demikian, saat resmi dirilis pada bulan November 2019. Segala keluhan dan informasi yang disampaikan masyarakat melalui aplikasi MalangKab Tanggap, bakal dapat segera ditindak lanjuti.

”Aplikasi ini merupakan wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Malang dalam merespons seluruh laporan dari warganya. Kami juga berkomitmen akan terus meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Harapannya, Kabupaten Malang bisa menjadi salah satu daerah Smart Regency di Indonesia,” pungkasnya.


End of content

No more pages to load