Sukkur warga Kota Probolinggo dilepas ketua DPC PDIP Haris Nasution, Keliling Indonesia (Agus Salam/Jatim TIMES)
Sukkur warga Kota Probolinggo dilepas ketua DPC PDIP Haris Nasution, Keliling Indonesia (Agus Salam/Jatim TIMES)

 Sukur (68) dipastikan tidak akan bertemu Keluarganya (Istri dan Anak serta Cucu) bahkan sahabatnya selama 8 bulan. 

Pasalnya, warga Jalan KH. Abdul Hamid, RT 1 RW 1, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo tersebut, keliling Indonesia.

Sukur akan menempuh perjalanan ribuan kilo meter bukan naik kendaraan roda 2 atau empat.

Bukan pula berjalan kaki, tetapi mengendarai atau naik sepeda angin atau pancal. 

Senin (5/8) pukul 09.00 ia meninggalkan kota kelahirannya, setelah dilepas di kantor DPC PDIP Jalan Brantas, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan oleh Haris Nasution ketua DPC PDIP kota setempat.

Nasution begitu biasa dipanggil, usai menyerahkan surat jalan mengatakan, Sukur, yang cacat jemari kedua tangannya nantinya, akan menghadiri Kongres V di Bali. 

Namun, ia tidak langsung ke Bali, tetapi berziarah dulu ke makam Soekarno di Blitar. 

“Dari sini ke Malang terus ke Blitar. Ke makam Bung Karno. Dari sini langsung ke Bali. Ya, dari Blitar, lewat sini lagi. Dari Bali mau kemana, pak Sukur sendiri yang ngatur rutenya,” tandasnya.

Calon DPRD Kota Probolinggo terpilih ini berharap, semangat Sukur perlu dicontoh, terutama generasi muda. 

Menurutnya, Sukur yang berkebutuhan khusus dan sudah menua masih semangat melakukan sesuatu. 

Ia rela meninggalkan anak dan istrinya berkeliling Indonesia. 

“Maksud saya tidak harus keliling Indonesia seperti pak Sukur. Tapi semangatnya itu yang patut ditiru. Dalam kondisi serba terbatas saja tetap semangat,” harapnya.

Nantinya, dalam perjalanan, Sukur lanjut Nasution akan singgah ke kantor DPC yang dilewati. 

Tujuannya, selain beristirahat meminta dukungan moril dan spiritual. 

Ditanya, apakah sudah dikabari ketua DPC PDIP yang akan dilalui Sukur? 

Nasution menjawab, “Sebagian sudah kami hubungi. Masih ada yang belum. Nanti saya mau Tanya dulu ke pak sukur. Mau lewat kota mana. Nah ketua DPC yang dilewati Sukur, nanti yang saya hubungi,” pungkasnya.

Sebelum berangkat, Sukur mendapat sumbangan sejumlah dana dari DPC dan undangan yang hadir diacara pelepasan tersebut. 

Sumbangan tersebut sebagai bekal perjalanan selama keliling Indonesia. 

Sebelum berangkat Sukur mengatakan, akan ke makam Soekarno di Blitar. 

Dari sana, ia balik kea rah timur menuju lokasi Kongres V di Bali. 

“Saya mau ziarah dulu ke makam pak Karvo. Dari Blitar balik lagi ke sini menuju Bali,” ujarnya.

Sukur membenarkan, kalau dirinya akan singgah sebentar diacara kongres V PDIP di Bali. 

Setelah itu, dari Bali ia tidak meneruskan perjalanan ke timur menuju Nusa Tenggara Barat (NTT) terus ke NTT (Nusa Tenggara Timur). 

Tetapi balik ke arah barat, menyebrang laut menuju Pulau Madura. 

“Dari Madura ke Surabaya. Terus ke Barat,” ujarnya sambil memeriksa speda dan barang bawaannya.

Sesampainya di pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Provinsi Banten, Sukur akan menyeberang ke Pulau Sumatera. 

Di pelabuhan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan itulah, ia memulai perjalannnya mengayuh sepeda menyusuri Pulau Sumatera hingga ke Aceh. 

Dari Aceh, ia akan menyeberang ke Kalimantan, kemudian ke Sulawesi, Maluku hingga ke Papua.

“Dari Papua, kami pulang, lewat NTT, NTB dan Bali hinggak sampai di sini lagi,” tambahnya.

Sukur mengaku, perjalanan keliling Indonesia kali ini bukan yang pertama. 

Sebelumnya, sudah 3 kali melakukan hal yang sama dan naik sepeda pancal yang sama. 

Yakni, dimulai tahun 2006, menjelajah Indonesia ke 2 tahun 2011 dan diulangi lagi tahun 2013.

“Tidak ada masalah dengan keluarga. Kami sudah 4 kali menjelajah Indonesia. Tujuannya, hanya ingin tahu wilayah Indonesia saja. Karena saya hobi,” pungkasnya.