Naga Putra Wicaksono, bocah delapan tahun yang sehari-hari mengamen untuk menyambung kehidupan keluarganya. (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

Naga Putra Wicaksono, bocah delapan tahun yang sehari-hari mengamen untuk menyambung kehidupan keluarganya. (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).



Masih kecil, bocah delapan tahun ini sudah diuji menjalani kerasnya hidup. Ya, bocah bernama Naga Putra Wicaksono ini rela ngamen hingga merawat ibunya yang tengah sakit. 

Tanpa terlihat memiliki beban dengan aktivitasnya yang padat,  Naga  setiap hari harus menyusuri jalanan untuk mengais rezeki.

Melihat perawakan dan gayanya bersosialisasi, Naga tak jauh berbeda dengan anak seumurannya. Dia gemar bermain game, berlarian dengan teman-temannya, serta malu-malu saat ditanya. Meski harus menanggung beban layaknya kepala keluarga, bocah yang dikenal banyak bersahabat itu masih tetap menunjukkan keceriaannya.

Saat ditemui di rumah kos yang ditempati bersama ibunya di kawasan Jl Borobudur IV B Nomor 5 Kota Malang, Naga tampak sedang bermain sepeda bersama teman-teman sebayanya. Dia terlihat lari ke sana kemari sembari tertawa lepas. Saat sedang ingin beristirahat, dia pun menaiki ruangan lantai dua kosan.

Sejak tiga tahun terakhir, Naga dan ibunya memang sudah menempati rumah kosan dengan ukuran kamar 2 x 2 meter tersebut. Di pintu kamar kosannya pun terdapat sebuah tulisan berbunyi 'Naga' sebagai petunjuk bahwa kamar itu ia tempati. Sementara isi kamarnya  penuh dengan kasur dan almari kecil serta tumpukan barang.

Bocah yang baru naik kelas III SD itu bercerita, sejak kecil ia memang sudah sering diajak mengamen oleh ibunya. Namun sejak Mei lalu, ia terpaksa harus mengamen sendiri tanpa ditemani sang ibu. Itu lantaran ibunya terbaring di dalam kamar dalam kondisi kakinya yang patah akibat kecelakaan yang dialami April lalu.

"Ngamennya sore kalau pas pulang sekolah. Paling jauh bisa ngamen sampai Sudimoro karena di sana banyak yang ngopi," ceritanya tanpa mengeluh.

Naga juga mengatakan jika selama ini ia mengamen sendirian dan hanya berjalan kaki. Dia juga merasa tidak takut saat harus pulang di malam hari. 

Selain mengamen, dia juga kerap mengerjakan pekerjaan rumah mulai dari memasak hingga mencuci baju miliknya dan milik sang ibu. "Kalau hidupkan kompor, bisa. Biasanya goreng keripik," imbuhnya.

Dengan polos, bocah itu menyampaikan bahwa penghasilannya mengamen lumayan besar. Dalam satu hari, ia bisa mendapat penghasilan hingga Rp 100 ribu lebih. Uang itu kemudian dikumpulkan untuk ibunya. Selain itu, ia membelikan nasi bungkus untuk makan ibunya yang masih susah bergerak. "Uangnya buat beli makan," ceritanya dengan mata berkaca-kaca.

Ketika ditanya terkait aktivitasnya bermain dan belajar, Naga mengatakan jika ia masih bisa belajar dan bermain dengan teman-temannya. Saat bisa bermain, maka ia akan menghabiskan waktu sisa yang dimiliki bersama teman-teman satu kosnya.

"Kalau main, ya main saja. Banyak temannya. Itu ada yang maaih kelas satu SD," katanya sembari menunjuk salah satu teman bermainnya.

Naga juga bercerita jika besar kelak ia ingin menjadi seorang tentara. Saat ditanya alasan ingin menjadi prajurit negara, Naga tersipu malu dan beberapa kali menyampaikan jika dirinya ingin menjadi seorang tentara yang mengabdi untuk negeri. "Pokoknya kepingin jadi tentara," ungkapnya.

Sementara itu, ibu Naga, Siti Aisyah, menyampaikan bahwa ia hanya hidup bersama dengan sang anak. Dia dan suami sudah lama berpisah. Pekerjaannya sebelum mengalami kecelakaan pun serabutan dan sering mengamen bersama anaknya tersebut.

"April lalu saya mengalami kecelakaan dan kaki saya patah. Terpaksa Naga harus ngamen sendiri," katanya saat ditemui wartawan di kamar kosan berukuran dua meter tersebut.

Kecelakaan yang menimpanya itu terjadi di Bondowoso. Ia menabrak sebuah mobil saat di tikungan yang cukup tajam. Dia jatuh saat sedang membonceng Naga. Kaki kirinya pun masih belum bisa berfungsi sempurna sampai sekarang. Hal itu juga terjadi pada tangan kanannya yang tampak seperti bengkok. "Saya diterapi sama orang selama ini dan orang lain yang memanggilkan terapisnya ke sini," jelasnya.

Aisyah pun bercerita dia akan menjalani perawatan kesehatan setelah mendapatkan bantuan dari relawan. Selain itu, Wali Kota Malang Sutiaji  telah menyampaikan akan memberikan perawatan ke rumah sakit setelah disambangi langsung. "Tadi kata Pak Sutiaji (wali kota Malang; red) mau dirawat di rumah sakit,"ungkapnya.

 


End of content

No more pages to load