Seorang siswa saat mendaftar di salah satu SMAN di Tulungagung (foto : Joko Pramono/ JatimTIMES)

Seorang siswa saat mendaftar di salah satu SMAN di Tulungagung (foto : Joko Pramono/ JatimTIMES)



Pemberlakuan jalur zonasi di PPDB tingkat SMAN di Kabupaten Tulungagung membuat orangtua siswa frustasi.

Pasalnya banyak anak mereka yang gagal masuk SMAN yang dituju, lantaran pembagian zona berdasarkan kecamatan.

Jumlah SMAN yang terbatas, hanya 8 sekolah harus menampung murid dari 19 kecamatan yang ada.

Keluhan orangtua disampaikan langsung ke kantor Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim wilayah Tulungagung dan Trenggalek.

Yang lebih mengenaskan lagi, bagi calon siswa yang berada di wilayah irisan antar kecamatan hampir bisa dipastikan tidak bisa diterima di SMAN karena jarak tempat tinggal dengan sekolah yang harus dituju relatif jauh.

Seperti yang dialami Revinka Pretty. Ia bertempat tinggal di pedukuhan Talapan, secara lokasi lebih dekat dengan Kecamatan Boyolangu.

Namun secara administrasi  kewilayahan masuk dalam Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung.

“Anak saya (Revinka Pretty) mau masuk SMAN 1 Boyolangu tidak bisa karena bukan zonanya. Talapan masuk wilayah Kecamatan Tulungagung yang merupakan Zona I. Dan ketika mendaftar SMAN di Zona I tidak diterima karena jarak rumah terlalu jauh dengan sekolah yang dituju,” ujar Endah, orang tua Revinka, pada awak media di Kantor Cabdin Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Tulungagung Trenggalek, Selasa (18/6). 

Kejadian ini juga menimpa warga lainya yang lokasi rumahnya sama dengan Talapan.

Semisal warga Desa Sobontoro Kecamatan Boyolangu yang berlokasi di belakang RSUD dr Iskak Tulungagung, dan lebih dekat dengan Kecamatan Kedungwaru.

Putra atau putri mereka tidak bisa mendaftar di SMAN 1 Kedungwaru yang jaraknya relatif dekat. Sementara, untuk masuk di SMAN 1 Boyolangu jarak rumah dan sekolah tersebut terbilang jauh.

Menanggap keluhan itu, Kasi SMK Cabdin Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Tulungagung dan Trenggalek, Subagyo, membenarkan banyak keluhan yang disampaikan orang tua calon siswa terkait pembagian wilayah zonasi.  

Namun pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena sudah merupakan keputusan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jatim.

“Di PPDB jalur zonasi saat ini tidak ada wilayah irisan untuk kecamatan. Yang ada wilayah irisan untuk antar kabupaten,” ujarnya.

Tak ada pilihan bagi siswa yang berada di wilayah irisan kecamatan itu, selain harus sekolah di sekolah swasta, jika ingin melanjutkan pendidikannya.

Hal yang sama dikatakan Ketua MKKS SMAN Kabupaten Tulungagung, Harim Soedjatmiko.  Kepala SMAN 1 Kedungwaru itu mengaku juga banyak mendapat keluhan dari orangtua calon siswa terkait pelaksanaan zonasi.

“Zonasi memang menguntungkan bagi calon siswa yang berada dekat sekolah yang dituju. Tapi tidak menguntungkan bagi  calon siswa yang berjarak cukup jauh. Nantinya, keluhan ini akan dijadikan evaluasi dan disampaikan pada provinsi dan pusat,” tuturnya.

 


End of content

No more pages to load