Saat jasad Endang S dievakuasi dari dalam rumahnya untuk dibawa ke RSUD dr Muhamad Saleh (Agus Salam/Jatim TIMES)

Saat jasad Endang S dievakuasi dari dalam rumahnya untuk dibawa ke RSUD dr Muhamad Saleh (Agus Salam/Jatim TIMES)


Pewarta

Agus Salam

Editor

Heryanto


 Endang Sukeni (60) warga RT 1 RW 1 Kelurahan Wonoasih, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, ditemukan tewas di dalam kamar, Senin (17/6) siang. 

Diduga, perempuan yang sudah lama menjanda dan berprofesi guru (Pengajar) di SMAN 1 Leces, Kabupaten Probolinggo tersebut, dianiaya hingga berakhir meninggal.

Mengingat, polisi yang melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara), menemukan bekas seperti habus dicekik di lehernya. 

Tak hanya itu, petugas Polres Probolinggo Kota, juga mendapati lidah korban menjulur keluar.

Selain itu, dari hidung perempuan yang biasa dipanggil Endang tersebut keluar darah.

Dugaan pembunuhan menguat, setelah polisi mengetahui tas yang berisi sejumlah barang  dan sebuah seluler hilang. 

Diperkirakan, berang milik korban itu dibawa kabur seseorang yang diduga pelaku. 

Untuk memastikan penyebab meninggalnya perempuan beranak 2 ini, jasad korban dibawa ke kamar mayat RSUD dr Muhammad Saleh, untuk dilakukan visum dan otopsi.

Hal tersebut disampaikan Kapolsek Wonoasih Kompol Sukatno, di rumah korban. 

Menurutnya, Endang diketahui meninggal setelah Wiwik rekan korban yang sama-sama mengajar di SMAN 1 Leces, ke rumah korban. 

Lantaran diketuk dan dipanggil beberapa kali tak menjawab, Wiwik yang biasa disapa Bu Umi itu, memberanikan diri masuk.

Lantaran di ruang tamu dan dapur tidak ada, Wiwik kemudian masuk ke kamar korban. 

Ia melihat Endang tengah tidur dalam posisi miring kearah selatan. 

Setelah diapanggil beberapa kali tidak menjawab, Wiwik lantas menghubungi Hendra, anak pertama korban yang juga berprofesi sebagai guru. 

“Kan Bu Wiwik tidak dapat melihat wajah korban. Karena korban membelakangi Wiwik. Korban miring,” tandas kapolsek.

Tak lama kemudian, Hendra datang dan meminta Tomy tetangganya untuk mengecek kondisi orang tuanya. 

Meski Endang sudah tidak berherak, namun Hendra tidak yakin, ibunya meninggal. Ia kemudian memanggil petugas Puskesma Wonoasih. 

“Setelah diperiksa petugas puskesmas, mereka yakin korban meninggal dunia,” ujarnya.

Disebutkan, korban meninggal tak wajar. Lidahnya menjulur dan ada bekas cekikan di lehernya, serta keluar darah dari hidungnya.

Selain itu tas korban yang di dalamnya berisi uang dan handphone juga hilang. 

“Korban meninggal diduga dibunuh. Belum diketahui pelaku dan motifnya. Apakah perampokan atau persoalan lain,” tambahnya.

Kapolsek juga mengaku, tidak tahu apakah korban sebelumnya pernah berselisih dengan seseorang atau memiliki musuh. 

Yang jelas tambahnya, pintu rumah dan pintu pagar tidak ada yang dirusak. 

Dimungkinkan, pintu rumah dan pagar tidak dikunci mengingat, siang hari. 

“Kata Bu Wiwik semua pintu tidak ada yang terkunci. Makanya, dia bisa masuk,” terang Kompol Sukatno.

Dijelaskan, Wiwik ke rumah dan tiba di rumah korban sekitar pukul 09.00. 

Ia bermaksud mengambil masakan yang akan dibawa diacara halal-bihalal di SMAN 1 Leces, tempatnya mengajar. 

Semalaman, Endang memasak ketupat lontong beserta bumbu dan ikan serta petisnya. 

“Kan sekarang di SMAN Leces ada acara halal bihalal. Salah satu makanannya disiapkan korban. Bu Wiwik ke sini, karena saat korban dihubungi, HPnya tidak diangkat,” ujarnya.

Ditambahkan, korban meninggal antara pukul 07.00 sampai dengan 09.00. 

Saat itu situasi rumah korban sepi, hanya Endang di rumah sendirian. 

Anak pertama mengajar, sedang anak kedua tinggal di Malang ikut suaminya. 

“Saat ditanya, apakah ada orang yang masuk ke rumah korban sebelum kejadian?. Sudah kami tanyakan. Tapi warga sekitar menjawab tidak tahu. Kasus ini kami selidiki dan dalami,” pungkasnya.

Tag's Berita

End of content

No more pages to load