Usaha Rumah Kos Lesu Pasca Penerapan Sistem Zonasi Penerimaan Siswa SMA/SMK

Rumah kos milik M. Iqbal yang sampai saat ini belum terisi
Rumah kos milik M. Iqbal yang sampai saat ini belum terisi

NGAWITIMES, BANYUWANGI – Penerapan sistem zonasi dalam pendaftaran siswa baru membawa dampak bagi pemilik rumah kos. Sejak penerapan sistem ini banyak rumah kos yang mangkrak. 

Kondisi ini terjadi khususnya pada rumah kos yang pangsa pasarnya anak sekolah menengah atas.

Seperti yang terjadi di wilayah lingkungan Sukorojo, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. Sejumlah pemilik rumah kos mengaku usahanya sepi akibat penerapan sistem zonasi ini.

"Biasanya kalau sudah masuk masa pendaftaran SMA atau SMK sudah banyak yang pesan kamar kos, sekarang sama sekali tidak ada," kata Rosyid (39), Pemilik rumah kos di Jl. Teratai Gang II, lingkungan Sukorojo, Banjarsari.

Rumah kos di wilayah ini memang menyasar siswa SMA/SMK yang bersekolah di SMAN I Glagah, SMAN I Giri, SMKN I Banyuwangi, SMKN I Glagah. 

Sebelum penerapan sistem zonasi banyak siswa sekolah tersebut berasal dari kecamatan lain khususnya wilayah Banyuwangi selatan seperti Srono, Cluring, Bangorejo, Purwoharjo, Gambiran dan sekitarnya. Dengan sistem zonasi, siswa sekolah ini didominasi dari lingkungan sekitarnya saja.

Rosyid menambahkan, meski banyak kamar kos miliknya yang kosong, namun dirinya tetap harus mengeluarkan biaya operasional. Sebab dia tetap harus mengeluarkan biaya listrik, wifi, biaya kebersihan dan perawatan. "Mau bagaimana lagi, kalau tidak dirawat ya malah rusak, tambah besar kerugian saya," jelas pengelola 9 kamar kos ini.

Muhammad Ikbal, pemilik rumah kos yang lain justru lebih parah lagi. Sudah dua periode pendaftaran sekolah delapan kamar kos miliknya sama sekali  belum pernah terisi. Padahal pria ini sudah memasang papan pengumuman di rumah kos miliknya. Dia mengakui sistem zonasi ini mempengaruhi tingkat hunian rumah kos. Karena siswa yang rumahnya jauh semakin berkurang.

Dia berharap, jika pemerintah tidak menggunakan sistem yang lama setidaknya bisa memberikan quota khusus untuk siswa dari wilayah luar daerah. Sehingga siswa dari wilayah kecamatan lain masih bisa masuk ke sekolah-sekolah tersebut. "Harus ada quota dari luar daerah berapa, 30 persen atau berapa. Sehingga tidak membatasi yang dari luar daerah," pungkasnya.

Pewarta : Muhammad Hujaini
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Banyuwangi TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]ngawitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]ngawitimes.com | marketing[at]ngawitimes.com
Top