Wilayah Selatan Tulungagung Jadi Tempat Berkembang Biak Vektor Malaria

Didik Eka tunjukan obat untuk Malaria (foto : Joko Pramono/Jatimtimes)
Didik Eka tunjukan obat untuk Malaria (foto : Joko Pramono/Jatimtimes)

NGAWITIMES, TULUNGAGUNGMeski bukan merupakan wilayah endemis penularan malaria, Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung gencar melakukan pencegahan penularan penyakit yang disebarkan oleh nyamuk anopeles itu.

Salah satu langkah yang diambil ialah dengan membagikan selimut berinsektisida pada masyarakat pesisir selatan Tulungagung.

Wilayah pesisir selatan ini dianggap berpotensi menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk anopeles sundaicus, lantaran banyaknya kubangan air payau.

“Di Tulungagung ada satu jenis nyamuk yang menjadi vektor malaria, yaitu anopheles sundaicus,” ungkap Kasi P2PM Dinkes Tulungagung, Didik Eka.

Nyamuk ini hanya berkembang biak di air payau. Wilayah yang diwaspadai antara lain Pantai Klathak, Pantai Sine, Pantai Popoh, dan Pantai Sidem.

Untuk pencegahan, Dinkes juga sudah membagikan 6.000 kelambu berinsektisida ke wilayah pantai, yang terdapat hunian penduduk. Selain itu Pemkab Tulungagung juga membayar Juru Malaria Desa (JMD), untuk mencegah cekungan air payau di wilayah pesisir.

Jika tidak teratasi, maka dilakukan pembasmian larva nyamuk dengan larvasida.

Dan setiap warga pendatang dari wilayah endemis malaria juga akan diambil sampel darahnya.

 “Sampel darah diserahkan ke Dinkes, kalau positif malaria akan langsung kami tangani sampai sembuh,” ujar Didik. 

Tulungagung sendiri sudah dinyatakan bebas dari Malaria sejak 2015 lalu oleh Kementrian Kesehatan.

Namun pada tahun 2018 ditemukan 65 warga yang terkena malaria, sedang pada 2019 hingga bulan Mei ditemukan 15 warga yang terkena malaria.

Mereka tertular saat berada di wilayah endemis malaria, seperti NTT, NTB, Papua, Bali Ambon, Sumatera dan Kalimantan.

Untuk warga yang hendak bepergian ke wilayah endemis malaria, diharapkan agar melapor ke Dinas Kesehatan untuk diberi obat pencegah malaria.

 “Tapi obat ini maksimal hanya bisa dikonsumsi selama satu bulan. Jadi harus diatur dengan baik,” terang Didik.

Malaria disebabkan oleh parasit plasmodium. Gejalanya demam, dan jika sudah kronis disertai warna kuning di selaput mukosa, seperti mata, kuku, lidah dan sebagainya. Malaria bisa disembuhkan karena ada obatnya. Obat disediakan gratis dengan dikendalikan oleh Dinkes.

“Obat ini tidak dijual bebas di apotek. Karena itu penting untuk melapor ke Dinkes jika ada temuan kasus,” sambung Didik.

Terakhir, Dinas Kesehatan Tulungagung mengumpulkan 10 rumah sakit dan 32 Puskesmas di Tulungagung, untuk membahas masalah malaria, Jumat (14/6/2019) kemarin.

Namun perlu kewaspadaan semua pihak, agar pasien malaria yang dari luar wilayah tidak menularkan di Tulungagung. “Kami minta semua fasilitas kesehatan yang menemukan pasien malaria segera dilaporkan ke Dinkes,” tegas Didik.

Pewarta : Joko Pramono
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]ngawitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]ngawitimes.com | marketing[at]ngawitimes.com
Top