Driver Ojol di Malang Cemaskan Wacana Larangan Diskon Tarif Ojek Online

Para driver ojek online saat mengantarkan pelanggan di Jalan Majapahit, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Para driver ojek online saat mengantarkan pelanggan di Jalan Majapahit, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

NGAWITIMES, MALANG – Wacana pembatasan diskon tarif ojek online (ojol) oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menuai pro kontra. Baik di kalangan konsumen maupun driver alias mitra aplikasi transportasi berbasis online itu. Para driver di Malang mengaku cemas jika pembatasan diskon berimbas pada sepinya pesanan. 

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan bahwa pihaknya tengah merancang aturan yang melarang adanya diskon atau potongan harga untuk layanan transportasi online. Larangan itu ditujukan agar ada persaingan sehat antara para penyedia layanan. Dengan adanya batasan pemberian diskon, diharapkan tidak muncul praktik monopoli dari salah satu aplikator. 

Didin, salah satu driver ojol di Malang mengaku cemas jika ada pembatasan tersebut. Lantaran, sehari-hari dia mendapatkan banyak order yang memanfaatkan diskon. "Selama ini di Malang kan pelanggan paling banyak order itu mahasiswa-mahasiswa, mereka senangnya memang pakai voucher diskon terutama buat makanan. Kalau dilarang, nanti bisa-bisa ordernya berkurang karena kan harga yang di aplikasi lebih mahal dibanding beli langsung," ujarnya. 

Meski demikian, Didin mengaku memang selama ini pemberian diskon tersebut cenderung tidak sehat. "Beberapa waktu lalu di Malang ini banyak driver yang pindah aplikasi, karena aplikasi yang satu banyak ngasih diskon jadinya banyak pelanggan. Tapi di sisi lain, saat banyak driver, mereka ngasih skema poin yang baru sehingga pendapatannya sama saja," ujarnya. 

Didin berharap, jika wacana tersebut direalisasikan maka pemerintah juga akan mempertimbangkan keberlangsungan mata pencaharian masyarakat yang terjalin dalam ekosistem aplikasi transportasi itu. "Kan nggak cuma driver yang kena pengaruhnya nanti, mitra yang jual makanan dan konsumen juga bakal merasa berat kalau nggak ada diskon atau promo," tuturnya.

Driver lain, Pujio menyebut bahwa saat ini wacana tersebut juga tengah menjadi perbincangan. "Lagi ramai dibahas di grup-grup ojol ini, apalagi dari perusahaan juga belum ngasih informasi nanti bagaimana-bagaimana. Kami tahunya baru dari berita-berita, ya intinya masih nunggu aja," sebutnya. 

Menurut Pujio, selama ini karakter pelanggan juga beragam. "Ada yang nggak pakai diskon, malah nambah bonus buat driver. Ya macam-macamlah," terangnya. 

Dalam keterangan pers di Jakarta, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi menyebut bahwa skema pembatasan itu dirancang lantaran di Indonesia saat ini hanya ada dua aplikator, yakni Grab Indonesia dan Gojek. Menurutnya, tarif diskon yang kerap diberikan salah satu aplikator berpotensi melumpuhkan aplikator lain. "Kalau yang satu memberikan subsidi terlampau banyak, yang lain enggak tahan, jadi tinggal satu," sebutnya, seperti dilansir Tempo, hari ini (12/6/2019). 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : A Yahya
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]ngawitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]ngawitimes.com | marketing[at]ngawitimes.com
Top