KITAB INGATAN 58

Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

NGAWITIMES, MALANG – Eureup-Eureup
*dd nana 

"Mari kita bercakap-cakap terkait hal yang terlihat tapi tak membuat bara di jalanan meletupkan otak dan dada kita."

Sifat kursi memberi rasa nyaman pada punggung. Memberi empuk pada tulang-tulang yang dipucatkan dinginnya pendingin ruangan.

Karenanya, kita berlomba memilikinya serupa barang hak milik. Tanpa mau melihat para penatah kayu kursi, pembuat busa dan kain, para perajin yang tangannya hitam dibakar kerja nyata. 

Yang pulang ke keluarganya dengan lipatan kumal uang yang kerap tak cukup untuk membuat mimpi terwujud.

Para yang tertindih.

Mereka yang di siang hari berkeringat dan malam menjelang parak pagi diburu makhluk-makhluk tak kasat mata yang nyata di sepasang mata.

Sleep Paralysis, begitu dia baca disebuah koran bekas pembungkus ikan asin. Kepalkan tangan, batuklah dan bangun.

"Semudah itu? Serupa mereka yang tak lagi duduk di kursi ciptaan kami. Lantas lantang mengucapkan rakyat, rakyat, demi rakyat.".

Tangan mereka terkepal-kepal menuding langit. Sampai akhirnya terantuk dan mereka pun mencoba batuk-batuk sambil mengerang-erang kesakitan. Sambil matanya tajam mengawasi peluang. 

"Demi rakyat sandiwara ini perlu dilakukan,".
"Semudah itu ?".

Para tertindih terengah-engah membebaskan tubuh lumpuh dan otak yang tak bekerja. 

Tapi hantu-hantu di malam hari sampai parak pagi datang silih berganti. 

Sebelum akhirnya segelas kopi dan cahaya matahari menghalau semua yang mereka sebut halusinasi itu.

"Saatnya menjadi robot budak," ucap lirih para tertindih. 

Matahari menyengat, dan jemari mereka sibuk mencipta kursi. Kursi yang empuk dan memesona mata. 

Tapi sialnya otak masih saja memberi sinyal keparat. Sedang perut yang melarat terus meminta untuk dipelihara. 

"Kenapa tidak Kau jadikan kami para pecinta-Mu saja?." 

Hasrat menyala-nyala untuk sezarah debu saja dari kursi itu. 

Agar saat pulang ke rumah, anak-anak bisa tertawa sambil menyantap ayam goreng seperti di iklan-iklan tivi.

Tapi sialnya para calon dan pemilik kursi piawai membaca gerak. 

Dilumpuhkannya senyawa glycine dan gamma-aminobutyric acid kami. 

Sampai akhirnya kami tiba di rumah. Dan lupa bagaimana cara menindih pasangan dengan baik dan benar.

"Bagaimana kami bisa menindih kalau kami tertindih?" ucapnya. 

Bergeraklah walau itu cuma perlahan saja. Bergeraklah dan sadar. 

"Semudah itu? Padahal lawan kami adalah jin tak kasat mata dan yang terlihat nyata. Kami dikepung di setiap hela nafas. Sedang daya hanya tinggal kedipan cahaya,".

Kasihan. Suara tanpa wujud itu mengulurkan sesuatu dalam genggamannya. 

"Ambil dan sebarkan pada kursi-kursi yang kau kerjakan itu," ucapnya.

Sejak itu, para pemilik kursi tak pernah lagi merasa nyaman saat mendudukinya. 

Mereka diserbu ketakutan-ketakutan dan otak mereka pun semakin keropos di mamah sesuatu yang diberikan oleh suara tanpa wujud. Menjadi tertindih.

Sedang para tertindih, masih saja melarat. Tapi mereka setidaknya bisa tersenyum dalam tidur terdalamnya.

"Mari kita bercakap-cakap tentang segala yang tak terkait walau mengait ingatan disepanjang jalan menuju Tuhan."


*Hanya penikmat kopi lokal.
 

 

Editor : Redaksi
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]ngawitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]ngawitimes.com | marketing[at]ngawitimes.com
Top