Sebelum Terlambat, Yuk Kenali Gejala Gangguan Jiwa Pada Remaja

Ilustrasi gangguan jiwa pada remaja (Ist)
Ilustrasi gangguan jiwa pada remaja (Ist)

NGAWITIMES, MALANG – Era modern diikuti berbagai perubahan begitu cepat telah membuat segala sendi kehidupan ikut berubah. 

Tuntutan yang semakin kompleks pun menjadi keniscayaan yang dihadapi manusia. 

Tak terkecuali dengan manusia-manusia kecil atau remaja. Baik di lingkup rumah, sekolah, lingkungan sampai pergaulan di dunia maya. 

Dunia yang juga telah mengubah pola perilaku remaja dalam menyikapi berbagai tantangan di fase usianya. 

Dunia nyata dan maya yang sama-sama keras kerap juga menjadikan remaja serupa komoditas. 

Hal ini sering berekses pada berbagai peristiwa tragis yang diawali akibat adanya perubahan perilaku, pikiran dan perasaan.

"Perubahan itu yang perlu dicermati orang tua saat terjadi kepada anak-anaknya. Karena itu sudah merupakan gejala dari gangguan jiwa," tulis dr Dearisa Surya Yudhantara Sp, KJ dalam acara deteksi dini gangguan jiwa dan Nafza di balai desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung.

Perubahan perilaku, pikiran dan perasaan yang terjadi pada remaja itu, yang perlu dikenali para orang tua. 

Sehingga gejala-gejala tersebut tidak terus terjadi dan akhirnya menjadi fatal dan berefek tragis.

Dearisa menyampaikan, beberapa tanda gangguan jiwa yang banyak terjadi saat ini dengan melihat perubahan perilaku, pikiran dan perasaan. 

Dimana, saat seorang anak atau remaja suka menyendiri, acuh pada lingkungan dan dirinya serta mengurung diri. Autistik bahkan mulai menyakiti dirinya sendiri dan hiperaktif. 

"Maka patut orang tua untuk segera melakukan tindakan medis dengan perubahan perilaku tersebut. Tak kecuali bila anak atau remaja telah kecanduan game dan HP. Itu merupakan gejala atau tanda adanya gangguan jiwa," ungkapnya.

Sedangkan untuk perubahan pikiran, bisa terlihat pada adanya pikiran-pikiran bersalah yang tidak wajar, kecurigaan berlebih sampai pada keluhan penyakit fisik yang juga berlebihan. 

Untuk perubahan yang bisa dideteksi para orang tua dalam tataran perasaan adalah saat rasa cemas, khawatir berlebihan dan menetap terus menerus, depresi yang berlebih serta kondisi gembira yang tidak wajar. 

Termasuk tanda-tanda mimik atau ekspresi datar atau tidak wajar.

Perubahan-perubahan tersebut, bila terus dibiarkan, maka masih menurut Dearisa akan berefek sangat buruk bagi remaja tersebut.

"Tidak bisa melihat realitas atau kenyataan. Berperilaku aneh yang juga diikuti dengan dorongan menyakiti diri sendiri sampai bunuh diri," ulasnya.

Apabila gejala-gejala tersebut terdeteksi maka, ucap Dearisa, segera rujuk ke pusat pelayanan kesehatan setempat. 

"Serta beri dukungan dan pengawasan dalam proses penyembuhannya," imbuhnya.

Gangguan jiwa di era saat ini, bisa dikatakan memiliki peluang besar terjadi pada siapapun.

Apabila gejala dan kondisi tersebut telah terlihat, maka pihak keluarga bisa secepatnya melakukan tindakan medis. 

"Jangan sampai pihak keluarga malah malu dan menyembunyikan. Sehingga kondisi semakin parah, ujung-ujungnya adalah pasung. Ini yang kerap terjadi," ujar Kholis Eko Cahyono  Manager Marketing dan Perkembangan Rumah Sakit Wava Husada, Kepanjen.

Kepekaan mendeteksi dari pihak keluarga serta dukungan petugas kesehatan dan pemerintah setempat juga menjadi faktor keberhasilan untuk mencegah timbulnya ekses buruk pada penderita gangguan jiwa. 

Kolaborasi inilah yang wajib untuk diteruskan di setiap lini. 

Karena, mencegah warga apalagi di usia produktif dalam masyarakat merupakan upaya urgen mempersiapkan generasi emas bangsa dan negara Indonesia.

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]ngawitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]ngawitimes.com | marketing[at]ngawitimes.com
Top