Penjagaan Ponpes Pasca Isu Tebar Fatwa Kiamat Mulai Longgar, Santri Berdatangan Bawa Perabot

Suasana aktivitas Ponpes Miftahu Falahil Mubtadi
Suasana aktivitas Ponpes Miftahu Falahil Mubtadi'ien pasca tersebarnya isu fatwa kiamat

NGAWITIMES, MALANG – Beberapa hari sebelumnya, Pondok Pesantren Miftahu Falahil Mubtadi’ien, Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang yang diasuh Muhammad Romli ramai dibicarakan di dunia maya. Itu menyusul tersebarnya isu fatwa kiamat di bulan Ramadhan Tahun ini.

Pantauan Malangtimes.com, aktivitas ratusan santri dan jamaah di ponpes tersebut berjalan seperti pada umumnya pada Kamis (14/3/2019) siang. Sebelumnya, ponpes tersebut dijaga ketat dengan alasan keamanan. Namun, ponpes yang berlokasi di tengah perkampungan warga ini sudah mulai terbuka. Terlihat adanya jamaah yang datang membawa perabotan seperti kasur spon, meja dan yang lainnya. Bahkan ada juga jamaah yang sibuk membuat rumah semi permanen di sekitar Ponpes.

Sekitar 300 jamaah dan 500 santri yang ada di ponpes tersebut. Kebanyakan mereka berasal dari luar Kabupaten. Mulai dari Mojokerto, Ponorogo, Kabupaten Malang, Lampung, Kalimantan, dan daerah lainnya.

Tak hanya rumah semi permanen saja, bahkan mereka ada yang sampai mengontrak rumah warga sekitar ponpes dengan biaya mulai Rp 3 juta hingga puluhan juta tergantung fasilitas dan jumlah kamar dari rumah yang dikontrak tersebut.

Salah satu jamaah bernama Heri Siswandi, 48 tahun, jamaah asal desa Jombok, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, mengungkapkan bahwa ia sudah menjadi jamaah di ponpes tersebut selama 7 tahun. Ia mengatakan bahwa bergabung dalam jamaah Musa AS tersebut, lantaran dari awal ia tidak mengetahui seperti apa Islam yang sebenarnya. Sehingga tujuannya bergabung tersebut adalah murni hanya untuk belajar agama.

“Saya ingin belajar agama Islam yang sebenarnya disini” tegas Heri yang biasa dipanggil Ajis kepada Malangtimes.com saat ditemui di Ponpes Kamis (14/3/2019) siang.

Ia menjelaskan  selama 7 tahun ia menetap di ponpes tersebut, hanya saat bulan rajab saja. Ia menginap di sekitar Ponpes bersama keluarga serta kakaknya. “Saya tidak menetap setiap hari disini, biasanya pulang. Tapi disini saya juga menyewa rumah,” tambah Ajis

Ayah dari tiga orang anak tersebut, mengatakan  bahwa ia membawa gabah 5 kuintal. Namun, gabah tersebut ia gunakan untuk persiapan selama menginap di Bulan Ramadhan tahun ini. Ia juga mengatakan bahwa tidak ada paksaan dari siapapun untuk datang ke Ponpes tersebut maupun soal membawa gabah.

“Tidak ada yang memaksa saya kesini, gabah yang saya bawa juga hanya untuk persiapan saya dan keluarga saya selama bulan Ramadhan nanti,” papar Ajis.

Kemudian, untuk kegiatan sehari – harinya, pria yang juga bekerja sebagai penjual bibit tersebut mengatakan bahwa selama di ponpes Ajis hanya mengaji dan salat serta mendengarkan tausiah saja. Untuk usaha bibitnya tersebut, dikatakannya sudah dititipkan kepada keluarganya untuk dikelola. Meskipun demikian, ia juga mengatakan masih sering pulang untuk mengecek usahanya tersebut.

Tak hanya itu saja, ia juga mengatakan ketika awal masuk ponpes tersebut, ia membawa modal sebesar Rp 10 juta untuk biaya bersama keluarganya. Sebab rumah yang ditinggalinya tersebut sudah disewa sebelumnya oleh sang kakak Ajis.

Kemudian, ia menjelaskan bawa hanya isu yang dibuat orang yang tidak senang ketika ia ditanya masalah fatwa yang beredar menyebutkan harus membeli pedang.

“Itu hanya orang yang tidak senang saja bikin isu yang seperti ini. Kalau menjual aset memang iya. Contohnya,  mereka punya sapi terus dijual untuk makan di ponpes tersebut. Masa iya minta makan ke Pak Kyai, kan saru,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan masalah foto pengasuh ponpes yang ia sebutkan sebagai sesuatu yang wajar. “Ada memang kami diminta membeli foto, harganya sekitar Rp 200 ribu, bukan satu juta. Wajar kan sebagai murid, punya mursid untuk membeli foto gurunya. Foto itu juga bukan sebagai penangkal gempa,” tambahnya.

Selain itu, jamaah asal Lampung bernama Siti Ngapuah, mengaku sudah 4 bulan menyewa rumah di sekitaran ponpes tersebut. Bahkan ia juga mengatakan hal yang serupa dengan yang dikatakan Ajis.

“Saya disini sama suami, anak dan mantu saya. Saya tinggal di rumah kos dengan membayar Rp 3 juta setahun. Modal yang kami bawa dari hasil tani. Lahan saya sewakan dengan bagi hasil dari penggarap. Tidak ada yang paksa kami, keinginan sendiri. Saya datang kesini sebab pengen puasa dekat guru,” pungkasnya.

Pewarta : Luqmanul Hakim
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]ngawitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]ngawitimes.com | marketing[at]ngawitimes.com
Top